Kesaksian Kristen tentang Resdi

Kesaksian Kristen tentang Resdi


Saya akan memposting Kesaksian Kristen tentang Resdi. Kesaksian ini diambil dari Jawaban.com.
Resdi seorang gadis yang sangat membenci bapaknya. Kebenciannya ini akhirnya membuat Resdi membenci semua pria. Hal ini bermula saat Resdi masih kecil, sekalipun ia tergolong anak yang baik namun bapaknya tidak memperhatikannya dan memperlakukannya dengan kasar.
Bapaknya memiliki kebiasaan setiap pagi harus ada kopi saat ia bangun. Tetapi pada hari itu, Resdi terlambat mebuatkan kopi untuk ayahnya. Dengan penuh amarah bapaknya mendorong Resdi hingga tangannya terkena api. Tangannya akhirnya mengalami luka bakar, berharap ibunya akan membantu, tetapi ternyata tidak. Ibunya malah ikut memarahinya. Resdi sedih sekali karena perlakuan orangtuanya itu. Setiap kali ia melihat luka itu, ia langsung ingat kekejaman bapaknya.

Ada satu kejadian lagi pada saat Resdi sudah menginjak usia remaja. Ia harus mengalami banyak penyiksaan secara fisik dari bapaknya. Hanya karena belum selesai masak pada saat bapaknya pulang dari ladang, ia langsung dipukuli dengan bambu sampai terkencing-kencing di celana dan seluruh tubuhnya memar-memar. Bapaknya sama sekali tidak peduli kesakitan yang dialami Resdi.
Siksaan demi siksaan yang ia alami membuat Resdi membulatkan keinginannya bila ia besar dan sukses nanti maka ia akan melupakan bapak dan ibunya.
Hingga suatu saat, Resdi mendapatkan pekerjaan di sebuah pabrik di Jakarta, ia menikmati kebebasannya. Satu tahun berhasil mandiri di ibu kota, terbersit dalam pikirannya untuk membalaskan dendamnya kepada orangtuanya dengan memanggil kakanya ke Jakarta. Kakaknya ini ia anggap sebagai anak kesayangan bapaknya. Jadi jika ia berhasil membuat kakaknya tersiksa, maka ia akan merasakan kepuasan.
Saat kakaknya tiba di Jakarta dan tinggal dengannya, Resdi menyuruh kakaknya untuk mengerjakan tugas-tugas rumahnya. Kakaknya sangat sedih dan akhirnya menangis karena perlakuan Resdi, namun hal ini malah membuat Resdi merasa senang karena sudah merasa membalaskan dendamnya pada orangtuanya dengan membuat kakaknya merasakan apa yang ia rasakan waktu kecil dulu.
Pada suatu hari Resdi diajak ke suatu kelas pemulihan oleh teman kantornya. Di kelas itu diajarkan tentang hati Bapa. Ia malah merasa bahwa ini tidak ada gunanya karena bapaknya saja sudah membuat masa depannya hancur dengan menanamkan kekejaman. Lalu akhirnya ada satu kalimat dari pembicara yang menegur hatinya, bahwa membenci saudara itu sama dengan pembunuh. Ia tidak mau menjadi seorang pembunuh. Saat itulah pembina Resdi mendoakannya, bahkan pembinanya meminta maaf kepada Resdi mewakili ayahnya.
"Yang saya dengar bukan suara pembina saya, tapi suara bapak saya. Saat itu saya dengar bapak saya menangis, sedih.. Hal itu membuat saya membuka hati dan memaadkan bapak saya."
Sejak Resdi bisa mengampuni bapaknya, ia bertekad untuk pulang kampung sehingga bisa meminta maaf langsung pada orangtuanya. Setelah 4 tahun tidak pulang, ia berharap akan disambut dengan penuh kerinduan oleh orangtuanya namun kenyataannya jauh dari yang ia harapkan. Ternyata orangtuanya lebih mengharapkan kakaknya yang pulang. Ia kecewa dan sedih, apalagi ibunya malah meminta uang hasil kerjanya.
Hingga di tahun 2006 Resdi menerima telepon dari ayahnya yang berkata bahwa mereka semua rindu. Ia diminta untuk pulang. Akhirnya ia pulang dan bertemu dengan keluarganya. Disaat itulah keluarganya akhirnya mengalami pemulihan. Mereka berkumpul dan saling meminta maaf atas semua kesalahan yang telah mereka buat dulu. Sekarang Resdi baru merasakan bagaimana kasih sayang seorang bapak. (Kisah ini ditayangkan 15 November 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).

Sumber kesaksian:
Resdi

Kesaksian, Kesaksian Kristen terbaru, Kesaksian iman Kristen, Kesaksian Kristen, Kesaksian Masuk Kristen, Kesaksian Kristen tentang Resdi

No comments:

Post a Comment

Feed and RSS